Situs ini sedang mengimplementasikan fitur inti dan belum siap untuk penggunaan pasien.
Hanya untuk tujuan informasi — bukan nasihat medis
Seberapa serius?
Risiko kematian
Ya
Vaksin tersedia?
Waktu hingga gejala
Negara terdampak
Wabah aktif
Termasuk dalam vaksin MMR — verifikasi 2 dosis sebelum bepergian. Risiko rendah bagi pelancong yang sudah divaksinasi lengkap. Wabah terjadi di lingkungan kontak dekat (asrama, kapal). Jika Anda mengalami pembengkakan kelenjar ludah disertai demam, cari evaluasi medis.
Infeksi virus pada kelenjar ludah menyebabkan pembengkakan wajah yang nyeri. Dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.
Viral infection primarily affecting the salivary glands.
Gondongan (parotitis epidemika, mumps) adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus gondongan (Mumps rubulavirus) dari keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini ditandai oleh pembengkakan nyeri pada kelenjar parotis (kelenjar ludah di depan telinga). Sekitar 30–40% infeksi bersifat asimtomatik (tanpa gejala). Komplikasi paling serius meliputi orkitis (peradangan testis) pada pria pascapubertas (15–30%) dan meningitis aseptik.
Di Indonesia, gondongan masih sering dijumpai terutama pada anak usia sekolah dan remaja. Vaksin MMR (measles-mumps-rubella) tersedia di layanan imunisasi swasta, sedangkan Program Imunisasi Nasional menggunakan vaksin MR (tanpa komponen mumps). IDAI merekomendasikan vaksin MMR pada usia 12–15 bulan dan dosis kedua pada usia 18 bulan atau 5–7 tahun.
Bio Farma saat ini memproduksi vaksin MR, sementara vaksin MMR diimpor. Gondongan termasuk penyakit yang dipantau melalui sistem surveilans Kemenkes RI, meskipun tidak semua kasus dilaporkan secara konsisten.
Segera ke IGD jika:
Nyeri testis hebat — perlu menyingkirkan torsio testis (kegawatdaruratan bedah)
Tanda-tanda meningitis: sakit kepala hebat, kaku kuduk, fotofobia, muntah proyektil
Kejang
Nyeri perut hebat persisten (pankreatitis)
Gangguan pendengaran mendadak
Tanda dan gejala paling umum
Masa inkubasi: 12–25 hari (rata-rata 16–18 hari)
Gejala utama:
Pembengkakan kelenjar parotis yang nyeri — awalnya unilateral (satu sisi), menjadi bilateral (kedua sisi) pada 70–80% kasus dalam beberapa hari
Nyeri saat mengunyah dan menelan, terutama saat makan makanan asam
Demam ringan hingga sedang (38–39°C)
Malaise, sakit kepala, mialgia
Komplikasi sistemik:
Orkitis (15–30% pria pascapubertas): Nyeri dan pembengkakan testis yang hebat, biasanya unilateral. Onset 4–8 hari setelah parotitis.
Ooforitis (5% wanita pascapubertas): Nyeri perut bawah
Meningitis aseptik (1–10%): Sakit kepala, kaku kuduk, fotofobia — biasanya ringan dan self-limiting
Pankreatitis (2–5%): Nyeri epigastrium, mual, muntah
Ketulian sensorineural (1/20.000): Biasanya unilateral, dapat permanen
Mengenali gejala adalah langkah pertama untuk respons yang cepat.
Perjalanan penyakit tipikal:
Infeksi asimtomatik: 20–30% infeksi gondongan bersifat subklinis. 40–50% lainnya datang dengan gejala pernapasan non-spesifik saja.
Bagaimana penyakit ini diidentifikasi
Diagnosis klinis: Pembengkakan kelenjar parotis bilateral yang nyeri pada anak/remaja yang tidak diimunisasi MMR sangat sugestif.
Konfirmasi laboratorium:
RT-PCR: Dari swab duktus Stensen (muara kelenjar parotis di mukosa bukal) — gold standard
IgM anti-mumps (ELISA): Positif dari onset gejala
IgG berpasangan: Peningkatan ≥4 kali lipat
Kultur virus: Dari saliva, urin, atau cairan serebrospinal
Diagnosis banding: Parotitis bakteri (supuratif), sialolitiasis (batu kelenjar ludah), limfadenitis servikal, tumor parotis
Metode pengobatan yang tersedia
Tata laksana — suportif (tidak ada antivirus spesifik):
Isolasi selama 5 hari sejak onset pembengkakan parotis
Analgesik/antipiretik (parasetamol, ibuprofen)
Kompres hangat atau dingin pada kelenjar parotis yang bengkak
Diet lunak — hindari makanan asam (merangsang kelenjar ludah dan memperberat nyeri)
Hidrasi adekuat
Orkitis:
Tirah baring, elevasi/penyangga skrotum
Anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) — ibuprofen atau naproksen
Kompres dingin
Analgesik kuat jika diperlukan (tramadol)
Meningitis:
Biasanya self-limiting (sembuh sendiri dalam 3–10 hari)
Analgesik untuk sakit kepala, antiemetik untuk mual
Sebagian besar kasus dapat ditangani secara efektif dengan diagnosis dini.
Cara melindungi diri sendiri
Vaksinasi:
Vaksin MMR: 2 dosis. Efektivitas: 78% (1 dosis), 88% (2 dosis).
Jadwal IDAI: MMR dosis pertama usia 12–15 bulan, dosis kedua usia 18 bulan atau 5–7 tahun.
Program Imunisasi Nasional Indonesia: Menggunakan vaksin MR (tanpa komponen mumps). Vaksin MMR tersedia di layanan swasta.
Dosis ketiga MMR: Direkomendasikan saat terjadi wabah (outbreak response).
Catatan Indonesia: Karena Program Imunisasi Nasional hanya menggunakan MR (bukan MMR), perlindungan terhadap gondongan bergantung pada akses ke vaksinasi swasta. IDAI mendorong penggunaan MMR untuk perlindungan optimal.
Persiapan adalah perlindungan terbaik.
Wisatawan:
Pastikan sudah menerima 2 dosis MMR sebelum perjalanan
Risiko penularan tinggi di akomodasi komunal (asrama, hostel, pondok pesantren)
Pria dewasa yang belum divaksinasi berisiko orkitis jika terinfeksi
Wisatawan ke Indonesia: periksa status vaksinasi MMR mengingat gondongan masih endemis
Statistik dan data geografis
Gondongan masih endemis di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya. Wabah sering terjadi di sekolah, asrama, dan komunitas padat. Data surveilans Kemenkes RI menunjukkan kasus sporadis sepanjang tahun. Di negara-negara yang telah menerapkan vaksinasi MMR universal, insidensi turun >90%. Indonesia belum mencapai penurunan serupa karena vaksin MMR belum termasuk dalam program imunisasi nasional rutin.
Siapa yang paling berisiko
Risk factors for mumps infection:
Vaccination status: Unvaccinated or incompletely vaccinated individuals have the highest risk. However, waning immunity means that even two-dose MMR recipients become increasingly susceptible over time (particularly >10 years after the second dose).
Close-contact settings: University dormitories, military barracks, boarding schools, prisons, and sports teams create ideal conditions for transmission. Most contemporary outbreaks in vaccinated populations occur in these settings.
Age: In the prevaccine era, peak incidence was in children aged 5–9 years. In the vaccine era, outbreaks have shifted to young adults (18–25 years), reflecting waning immunity from childhood vaccination.
Travel: Exposure to regions with endemic mumps or ongoing outbreaks, particularly areas with low MMR coverage.
Crowding and shared living spaces: Household secondary attack rate in susceptible contacts is 40–50%.
Risk factors for complications:
Post-pubertal age: Orchitis occurs almost exclusively in post-pubertal males (15–30% of post-pubertal male mumps cases vs. <1% in prepubertal boys). Oophoritis occurs in 5% of post-pubertal females.
Age >15 years: Meningitis and encephalitis are more common in adolescents and adults than in young children.
Male sex: Males are 3–5 times more likely to develop mumps encephalitis than females.
Immunosuppression: Limited data, but immunocompromised individuals may have atypical presentations and prolonged viral shedding.
Genotype: Some evidence suggests that genotype G (currently dominant globally) may be associated with higher rates of complications in vaccinated populations, possibly due to antigenic differences from the Jeryl Lynn vaccine strain (genotype A), though this remains debated.
Komplikasi yang mungkin terjadi
Orkitis (15–30% pria pascapubertas): Atrofi testis pada ~50% kasus orkitis, namun infertilitas total jarang terjadi (karena biasanya unilateral). Oligospermia sementara sering terjadi. Ooforitis (5% wanita pascapubertas): Biasanya ringan, tidak menyebabkan infertilitas. Meningitis aseptik (1–10%): Prognosis baik, pemulihan lengkap dalam mayoritas kasus. Ensefalitis (1/6.000): Lebih serius, dapat menyebabkan sekuele neurologis. Ketulian sensorineural (1/20.000): Dapat permanen, biasanya unilateral. Penyebab penting ketulian didapat pada anak. Pankreatitis (2–5%): Biasanya ringan dan self-limiting. Mortalitas: 1,6–3,8/10.000 kasus — sangat rendah di era modern.
Hasil yang diharapkan dan pemulihan
Keseluruhan: Prognosis sangat baik. CFR ~0,01%. Swasirna pada sebagian besar kasus.
Komplikasi:
Orkitis (peradangan testis): 15–30% pria pasca-pubertas. Bilateral pada 15–30% kasus orkitis. Subfertilitas jarang (<5%); sterilitas total sangat jarang.
Ooforitis: 5% wanita pasca-pubertas.
Meningitis aseptik: 1–10% (biasanya jinak, sembuh dalam 3–10 hari).
Tuli sensorineural: 1 dari 20.000 (biasanya unilateral, mungkin permanen).
Pankreatitis: 4% (biasanya ringan, swasirna).
Imunitas: Seumur hidup setelah infeksi alamiah. Imunitas yang diinduksi vaksin dapat memudar (kegagalan vaksin sekunder berkontribusi pada wabah di populasi yang divaksinasi).
Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Perlindungan efektif tersedia.
Bicarakan dengan spesialis kesehatan perjalanan tentang jadwal yang direkomendasikan sebelum perjalanan Anda.
Temukan klinik vaksinasi →Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Medova bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkapRecent epidemiological data from the World Health Organization Global Health Observatory.
Source: WHO GHO OData ↗
And 15 more records
This data is provided for informational purposes. Please consult official WHO sources for the most current information.
View WHO data source →Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.