Hanya untuk tujuan informasi — bukan nasihat medis
Seberapa serius?
Risiko kematian
Ya
Vaksin tersedia?
Waktu hingga gejala
Negara terdampak
Wabah aktif
Pastikan booster Tdap Anda terkini (setiap 10 tahun). Pertusis endemik secara global dan wabah terjadi di semua negara. Sangat penting jika bepergian dengan atau mengunjungi bayi muda. "Batuk 100 hari" dapat berdampak signifikan pada rencana perjalanan.
Infeksi pernapasan sangat menular menyebabkan batuk berat berkepanjangan. Dapat mengancam jiwa bayi.
Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis. Sangat menular (R₀ 12–17). Batuk paroksismal khas dengan whoop inspirasi. Sangat berbahaya bagi bayi <6 bulan. ~160.000 kematian/tahun (terutama bayi di negara berpenghasilan rendah). Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi (DTPa/Tdap).
Pertusis (batuk rejan, whooping cough) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Tingkat penularan dalam satu rumah tangga (secondary attack rate) mencapai 80–90%. Penyakit ini paling berbahaya pada bayi <6 bulan yang belum mendapat imunisasi lengkap — kelompok ini menyumbang ~90% kematian akibat pertusis.
Di Indonesia, pertusis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat meskipun Program Imunisasi Nasional telah mencakup vaksin DPT sejak 1977. Kasus pertusis dilaporkan secara sporadis, namun kemungkinan underreported karena diagnosis yang sulit dan kesadaran klinis yang bervariasi. Kemenkes RI memasukkan pertusis dalam program imunisasi melalui vaksin DPT-HB-Hib (pentavalent) yang diproduksi Bio Farma.
IDAI merekomendasikan vaksinasi Tdap untuk ibu hamil pada setiap kehamilan (usia kehamilan 27–36 minggu) untuk melindungi bayi baru lahir melalui transfer antibodi transplasenta. Namun, implementasi vaksinasi Tdap pada ibu hamil di Indonesia masih terbatas.
Segera ke IGD jika:
Apnea (henti napas) atau sianosis (kebiruan) pada bayi
Kejang
Bayi tidak mampu menyusu/makan
Demam >38,5°C disertai batuk berat (kemungkinan pneumonia)
Serangan batuk yang menyebabkan kehilangan kesadaran
Semua bayi <6 bulan dengan suspek pertusis harus dirawat inap.
Tanda dan gejala paling umum
Masa inkubasi: 7–10 hari (rentang 5–21 hari)
Fase kataral (1–2 minggu):
Tidak dapat dibedakan dari pilek biasa: batuk ringan, pilek, demam ringan atau tanpa demam
Fase PALING MENULAR — namun diagnosis jarang ditegakkan pada fase ini
Fase paroksismal (2–8 minggu, bisa lebih lama):
Serangan batuk (paroksisme): batuk beruntun 10–30 kali tanpa jeda untuk bernapas
"Whoop" (tarikan napas berbunyi nyaring): Inspirasi paksa setelah serangan batuk — khas pada anak >6 bulan, sering tidak ada pada bayi kecil dan dewasa
Muntah pascabatuk (post-tussive vomiting) — hampir patognomonik
Wajah merah/sianosis saat serangan batuk
Apnea pada bayi: Henti napas tanpa batuk khas — presentasi utama pada bayi <3 bulan, sangat berbahaya
Serangan sering memburuk di malam hari
Fase konvalesensi (2–6 minggu atau lebih):
Batuk berangsur berkurang
Disebut "batuk 100 hari" (100-day cough) karena durasi total yang panjang
Mengenali gejala adalah langkah pertama untuk respons yang cepat.
Perjalanan penyakit tipikal:
Presentasi atipikal: Dewasa dan anak yang telah divaksinasi sering mengalami batuk berkepanjangan tanpa bunyi khas "whoop". Bayi <3 bulan dapat datang dengan apnea alih-alih batuk.
Bagaimana penyakit ini diidentifikasi
Konfirmasi laboratorium:
Kultur: Swab nasofaring (NP swab) pada media Bordet-Gengou atau Regan-Lowe — gold standard namun sensitivitas rendah setelah minggu ke-2
PCR dari swab nasofaring: Paling sensitif, hasil cepat — metode pilihan
Serologi (anti-PT IgG): Berguna pada kasus lanjut (>2–3 minggu batuk) saat kultur/PCR sudah negatif
Diagnosis banding: Bronkiolitis (RSV), infeksi Bordetella parapertussis, Mycoplasma pneumoniae, benda asing saluran napas, asma
Metode pengobatan yang tersedia
Antibiotik (mengurangi penularan, efektivitas terhadap gejala terbatas jika sudah fase paroksismal):
Azitromisin 5 hari (lini pertama): Aman untuk bayi <1 bulan. Dosis anak: 10 mg/kg hari pertama, lalu 5 mg/kg hari 2–5.
Klaritromisin 7 hari: Alternatif. 15 mg/kg/hari terbagi 2 dosis.
Eritromisin 14 hari: Jika makrolid di atas tidak tersedia.
TMP-SMX: Alternatif jika intoleransi makrolid.
Perawatan suportif:
Rawat inap semua bayi <6 bulan — monitoring kontinu (apnea, sianosis, kesulitan makan)
Suplementasi oksigen jika hipoksia
Pemberian makan sedikit-sedikit tapi sering (small frequent feeds)
Suction lendir jika perlu
Profilaksis pascapajanan (PEP):
Antibiotik profilaksis untuk SEMUA kontak serumah — termasuk anggota keluarga, pengasuh, tanpa memandang status vaksinasi
Prioritas tinggi: bayi, ibu hamil, lansia, individu imunokompromais
Sebagian besar kasus dapat ditangani secara efektif dengan diagnosis dini.
Cara melindungi diri sendiri
Vaksinasi:
Program Imunisasi Nasional (Kemenkes RI):
DPT-HB-Hib-1, -2, -3: usia 2, 3, 4 bulan (vaksin pertusis whole-cell dari Bio Farma)
Booster DPT-HB-Hib: usia 18 bulan
Rekomendasi IDAI:
Vaksin DTPa (acellular pertussis) tersedia di layanan swasta sebagai alternatif
Tdap untuk ibu hamil: Setiap kehamilan, usia kehamilan 27–36 minggu — PENTING untuk melindungi bayi baru lahir
Booster Tdap pada usia 10–12 tahun
Strategi "cocooning" (kepompong): Vaksinasi Tdap untuk semua orang yang akan kontak dekat dengan bayi baru lahir (ayah, kakek-nenek, pengasuh).
Persiapan adalah perlindungan terbaik.
Wisatawan:
Pastikan booster Tdap dalam 10 tahun terakhir sebelum perjalanan
Ibu hamil yang akan melahirkan di Indonesia: pastikan sudah mendapat Tdap pada trimester ketiga
Bayi <6 bulan yang belum divaksinasi lengkap: risiko tertinggi — hindari kontak dengan orang batuk
Statistik dan data geografis
Pertusis masih endemis di Indonesia. Data Kemenkes RI menunjukkan kasus sporadis dan KLB kecil setiap tahun, meskipun kemungkinan terjadi underreporting yang signifikan. Secara global, pertusis mengalami re-emergence (peningkatan kembali) sejak 2010, bahkan di negara dengan cakupan vaksinasi tinggi, akibat waning immunity (menurunnya kekebalan seiring waktu, terutama vaksin acellular).
Di Indonesia, penggunaan vaksin whole-cell pertussis dalam program nasional memberikan perlindungan yang lebih tahan lama dibandingkan vaksin acellular, namun efek samping lokal lebih sering.
Siapa yang paling berisiko
Bayi tidak/belum lengkap divaksinasi, kekebalan menurun (5–10 tahun setelah vaksinasi), kontak dengan anggota rumah tangga yang terinfeksi, kepadatan penduduk.
Komplikasi yang mungkin terjadi
Pneumonia: Komplikasi paling sering dan penyebab kematian utama, terutama pada bayi. Pneumonia bakteri sekunder. Apnea: Terutama pada bayi <3 bulan — dapat menyebabkan kematian mendadak. Kejang: Akibat hipoksia selama serangan batuk berat atau ensefalopati. Ensefalopati: Jarang, akibat hipoksia — dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis: Akibat tekanan tinggi saat batuk. Fraktur iga: Pada batuk yang sangat hebat (terutama lansia). Inkontinensia urin: Saat serangan batuk (terutama wanita dewasa). Hernia inguinalis dan prolaps rektum: Akibat tekanan intraabdominal tinggi.
Mortalitas: Bayi <2 bulan: 1–3%. Negara berkembang: lebih tinggi karena keterlambatan diagnosis dan akses layanan ICU neonatal terbatas.
Hasil yang diharapkan dan pemulihan
Bayi <6 bulan: Morbiditas dan mortalitas tertinggi. CFR 1–3% pada bayi yang tidak divaksinasi. Penyebab utama kematian akibat pertusis.
Anak yang lebih tua dan dewasa: Jarang fatal tetapi menyebabkan morbiditas berkepanjangan. "Batuk 100 hari."
Komplikasi:
Pneumonia (penyebab kematian tersering pada bayi): 5–10%.
Kejang: 1–2%, biasanya demam.
Ensefalopati: 0,1–0,3%.
Fraktur iga, hernia, perdarahan subkonjungtiva (akibat batuk keras).
Hipersensitivitas batuk pasca-pertusis dapat bertahan selama berbulan-bulan.
Imunitas: Infeksi alamiah memberikan perlindungan 7–20 tahun. Imunitas yang diinduksi vaksin memudar dalam 5–10 tahun.
Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Perlindungan efektif tersedia.
Bicarakan dengan spesialis kesehatan perjalanan tentang jadwal yang direkomendasikan sebelum perjalanan Anda.
Temukan klinik vaksinasi →Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Medova bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkapRecent epidemiological data from the World Health Organization Global Health Observatory.
Source: WHO GHO OData ↗
And 15 more records
This data is provided for informational purposes. Please consult official WHO sources for the most current information.
View WHO data source →Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.