Vaksin demam kuning adalah vaksin hidup yang dilemahkan mengandung galur virus 17D, dikembangkan sejak tahun 1937 dan merupakan salah satu vaksin paling efektif dalam sejarah kedokteran. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi virus demam kuning yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Haemagogus spp. di wilayah endemik Afrika dan Amerika Selatan. Di Indonesia, vaksin demam kuning tidak termasuk dalam Program Imunisasi Nasional (PIN) karena penyakit ini tidak endemik di wila
Vaksin demam kuning adalah vaksin hidup yang dilemahkan mengandung galur virus 17D, dikembangkan sejak tahun 1937 dan merupakan salah satu vaksin paling efektif dalam sejarah kedokteran. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi virus demam kuning yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Haemagogus spp. di wilayah endemik Afrika dan Amerika Selatan.
Di Indonesia, vaksin demam kuning tidak termasuk dalam Program Imunisasi Nasional (PIN) karena penyakit ini tidak endemik di wilayah Indonesia. Namun demikian, vaksin ini diwajibkan bagi pelancong Indonesia yang akan bepergian ke negara-negara endemik demam kuning di Afrika Sub-Sahara dan Amerika Selatan, sesuai dengan International Health Regulations (IHR) 2005 yang diadopsi oleh Kemenkes RI.
WHO merekomendasikan satu dosis vaksin demam kuning memberikan perlindungan seumur hidup. Sejak 2016, Sertifikat Vaksinasi Internasional (International Certificate of Vaccination or Prophylaxis/ICVP) tidak lagi memerlukan booster 10 tahunan, sesuai dengan amandemen IHR yang berlaku sejak Juli 2016. BPOM telah mendaftarkan vaksin Stamaril (Sanofi Pasteur) untuk penggunaan di Indonesia.
Vaksin demam kuning diindikasikan untuk kelompok berikut berdasarkan pedoman Kemenkes RI dan WHO:
Pelancong internasional: Semua individu berusia ≥9 bulan yang akan bepergian ke negara-negara endemik demam kuning di Afrika Sub-Sahara (termasuk Nigeria, Kamerun, Ghana, Kenya) dan Amerika Selatan (termasuk Brasil, Kolombia, Peru, Bolivia). Vaksinasi harus dilakukan minimal 10 hari sebelum keberangkatan agar sertifikat ICVP berlaku.
Persyaratan negara tujuan: Beberapa negara mewajibkan bukti vaksinasi demam kuning bagi semua pelancong yang tiba, termasuk transit, dari negara endemik. Indonesia sendiri mewajibkan sertifikat vaksinasi bagi pelancong dari negara endemik yang memasuki wilayah Indonesia, sesuai Permenkes No. 12 Tahun 2017.
Petugas laboratorium: Personel yang bekerja dengan virus demam kuning tipe liar di laboratorium virologi atau fasilitas penelitian.
Pekerja kemanusiaan dan diplomatik: Tenaga kesehatan, relawan kemanusiaan, dan staf diplomatik yang ditugaskan di wilayah endemik untuk jangka waktu tertentu.
Vaksin demam kuning memiliki kontraindikasi yang harus diperhatikan secara ketat mengingat sifatnya sebagai vaksin hidup yang dilemahkan:
Kontraindikasi absolut:
Bayi berusia <6 bulan (risiko ensefalitis pasca-vaksinasi sangat tinggi)
Riwayat reaksi anafilaksis terhadap komponen vaksin (protein telur ayam, gelatin)
Imunodefisiensi berat: HIV dengan CD4 <200 sel/mm³, terapi imunosupresan, kemoterapi, transplantasi organ
Gangguan timus: timoma, riwayat timektomi, miastenia gravis terkait timus
Kehamilan (vaksin hidup berpotensi teratogenik — kecuali risiko paparan sangat tinggi)
Kontraindikasi relatif:
Bayi usia 6–8 bulan (hanya jika risiko paparan sangat tinggi dan tidak ada alternatif)
Usia ≥60 tahun yang belum pernah divaksinasi (risiko YEL-AVD dan YEL-AND meningkat)
Ibu menyusui (risiko transmisi galur vaksin ke bayi melalui ASI)
HIV dengan CD4 200–499 sel/mm³ (konsultasi dokter spesialis diperlukan)
Dokter di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kemenkes RI dapat menerbitkan surat keterangan pembebasan medis (medical waiver) bagi individu dengan kontraindikasi.
Efek samping vaksin demam kuning umumnya ringan dan bersifat sementara, namun efek samping serius yang jarang terjadi perlu diketahui:
Reaksi lokal (20–25% penerima): Nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di tempat suntikan yang muncul 1–3 hari pasca-vaksinasi dan hilang dalam 5–7 hari tanpa pengobatan khusus.
Reaksi sistemik ringan (10–30%): Demam ringan (37,5–38,5°C), nyeri kepala, mialgia (nyeri otot), dan malaise yang menyerupai gejala flu ringan. Gejala ini biasanya muncul 3–7 hari pasca-vaksinasi dan berlangsung 1–3 hari. Dapat ditangani dengan parasetamol sesuai dosis.
Reaksi hipersensitivitas (<1%): Urtikaria, ruam kulit, dan dalam kasus sangat jarang, reaksi anafilaksis (1,8 per 100.000 dosis). Fasilitas vaksinasi di KKP harus memiliki kit anafilaksis lengkap.
Yellow Fever Vaccine-Associated Viscerotropic Disease (YEL-AVD): Kondisi sangat jarang (0,3–0,4 per 100.000 dosis) namun berpotensi fatal. Menyerupai infeksi demam kuning tipe liar dengan kegagalan multi-organ. Risiko lebih tinggi pada usia ≥60 tahun dan riwayat penyakit timus.
Yellow Fever Vaccine-Associated Neurotropic Disease (YEL-AND): Ensefalitis pasca-vaksinasi (0,4–0,8 per 100.000 dosis). Risiko tertinggi pada bayi <6 bulan. Prognosis umumnya baik dengan pemulihan sempurna.
Informasi pemberian vaksin demam kuning sesuai pedoman Kemenkes RI dan WHO:
Dosis dan cara pemberian: Dosis tunggal 0,5 mL diberikan secara subkutan (SC) di regio deltoid lengan atas. Beberapa pedoman juga memperbolehkan pemberian intramuskular (IM). Vaksin harus direkonstutisi dengan pelarut steril yang disediakan oleh produsen.
Jadwal vaksinasi: Dosis tunggal minimal 10 hari sebelum memasuki daerah endemik. Sertifikat ICVP berlaku mulai hari ke-10 pasca-vaksinasi dan berlaku seumur hidup (tidak perlu booster). Untuk individu imunokompromi yang telah pulih, dosis booster tunggal dapat dipertimbangkan.
Tempat pemberian: Di Indonesia, vaksinasi demam kuning hanya dapat dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang ditunjuk oleh Kemenkes RI di pelabuhan dan bandara internasional. Daftar KKP yang menyediakan vaksinasi tercantum di situs resmi Kemenkes.
Dokumentasi: Setelah vaksinasi, petugas KKP menerbitkan International Certificate of Vaccination or Prophylaxis (ICVP/kartu kuning) yang ditandatangani dan distempel resmi. Dokumen ini harus dibawa saat bepergian ke negara endemik.
Catatan khusus: Vaksin demam kuning mengandung komponen dari telur ayam berembrio. Bagi individu Muslim Indonesia yang memerlukan kepastian status halal, konsultasi dengan MUI atau lembaga halal terkait dapat dilakukan, meskipun MUI umumnya memperbolehkan penggunaan vaksin untuk keperluan medis yang mendesak berdasarkan prinsip darurat.
Vaksin demam kuning galur 17D merupakan salah satu vaksin paling efektif yang pernah dikembangkan dalam sejarah imunologi:
Efikasi klinis: Satu dosis vaksin memberikan perlindungan ≥99% terhadap infeksi demam kuning simtomatik. Serokonversi terjadi pada 95–99% penerima vaksin dalam 10–14 hari pasca-vaksinasi. Antibodi penetral terdeteksi pada >90% individu selama minimal 35–40 tahun pasca-vaksinasi.
Durasi perlindungan: Berdasarkan bukti epidemiologis dan imunologis selama lebih dari 80 tahun penggunaan, WHO menyimpulkan bahwa satu dosis vaksin memberikan perlindungan seumur hidup. Keputusan ini diadopsi dalam amandemen IHR yang berlaku sejak Juli 2016, menghapus persyaratan booster 10 tahunan sebelumnya.
Efektivitas lapangan: Selama wabah demam kuning di Angola (2016) dan Brasil (2017–2018), vaksinasi massal dengan dosis fraksional (1/5 dosis standar) menunjukkan serokonversi 85% pada 28 hari, membuktikan fleksibilitas strategi vaksinasi dalam situasi darurat.
Keterbatasan: Kelompok imunokompromi mungkin mengalami respons imun suboptimal. Pemeriksaan titer antibodi penetral pasca-vaksinasi dapat dipertimbangkan untuk kelompok risiko tinggi. Vaksin tidak efektif sebagai profilaksis pasca-paparan terhadap demam kuning.
Proper vaccine storage is critical for maintaining potency and efficacy.
Unopened vaccine (lyophilized powder):
Temperature: 2°C to 8°C (35°F to 46°F); aim for 5°C (41°F)
Protection from light: Keep in original packaging
Duration: Until expiration date on vial
Freezing: Must not be frozen
Active Ingredient:
Yellow fever virus 17D-204 strain (live, attenuated) – minimum 1000 international units (IU) per 0.5 mL dose (equivalent to ≥4.74 log₁₀ plaque-forming units)
Produced in specified pathogen-free (SPF) chicken embryos, free of avian leukosis virus
Non-medicinal Ingredients (Excipients):
Sorbitol (stabilizer)
Gelatin (stabilizer)
Sodium chloride
L-Histidine hydrochloride
L-Alanine
Potassium chloride
Disodium phosphate dihydrate
Potassium dihydrogen phosphate
Calcium chloride
Magnesium sulfate
Lactose (in some formulations)
Water for injection
Notable absence:
No preservatives (sodium thimerosal or other antimicrobial agents) are added
Physical form:
Lyophilized (freeze-dried) powder supplied in hermetically sealed vials under nitrogen atmosphere
Reconstituted vaccine: slight pink-brown suspension
Interaksi vaksin demam kuning dengan obat dan vaksin lain perlu dipertimbangkan untuk memastikan efektivitas optimal:
Vaksin hidup lainnya: Jika tidak diberikan bersamaan, vaksin demam kuning harus diberikan dengan interval minimal 4 minggu dari vaksin hidup lain (MMR, varisela, BCG). Pemberian simultan pada hari yang sama di lokasi anatomi berbeda diperbolehkan sesuai pedoman WHO.
Vaksin inaktif: Tidak ada interaksi bermakna dengan vaksin inaktif (hepatitis A, hepatitis B, tifoid injeksi, meningokokus, rabies). Dapat diberikan bersamaan atau kapan saja tanpa interval khusus.
Obat imunosupresan: Kortikosteroid dosis tinggi (prednison ≥20 mg/hari selama ≥14 hari), obat biologis (anti-TNF, rituximab), kemoterapi — vaksinasi harus ditunda minimal 3 bulan setelah penghentian terapi imunosupresan.
Antimalaria: Klorokuin dan meflokuin tidak memengaruhi respons imun terhadap vaksin demam kuning. Dapat diberikan bersamaan tanpa penyesuaian.
Produk darah: Imunoglobulin dan transfusi darah dapat mengurangi efektivitas vaksin. Interval minimal 2 minggu sebelum atau 3 bulan setelah pemberian produk darah.
Recommendation: Yellow fever vaccine should be avoided during pregnancy unless travel to a high-risk yellow fever-endemic area is unavoidable and cannot be postponed, and a high level of protection against mosquito bite exposure is not feasible.
Rationale: Wild yellow fever virus can cause severe infection in pregnancy and has been associated with fetal transmission and poor outcomes. However, the live attenuated vaccine virus carries theoretical risk, particularly in the first trimester. Limited data from surveillance of several hundred women who inadvertently received yellow fever vaccine during pregnancy have not demonstrated significant adverse fetal outcomes, suggesting that inadvertent vaccination during pregnancy is not an indication for pregnancy termination.
Special considerations:
Seroconversion rates (antibody response) following vaccination are lower in pregnant women compared to non-pregnant individuals; post-immunization serology (blood test to confirm immunity) may be considered
Individual risk assessment must carefully weigh the risk of yellow fever infection (which carries substantial maternal and fetal morbidity and mortality) against theoretical vaccine risks
If vaccination is deemed necessary, it should ideally be administered in the second or third trimester, though the vaccine can be given at any stage if infection risk is high
Healthcare providers should document the indication for vaccination and counsel women regarding theoretical risks
Women of childbearing potential should be counseled to avoid pregnancy for 2 months following yellow fever vaccination, though data do not support this as a strict requirement
Recommendation: Yellow fever vaccination should generally be avoided in women who are actively breastfeeding, particularly those breastfeeding infants under 9 months of age.
Rationale: Three documented cases of vaccine-strain yellow fever virus transmission through breast milk have been reported, resulting in meningoencephalitis in exclusively breastfed infants whose mothers received yellow fever vaccine during their infants' first month of life. Although the exact mode of transmission has not been definitively established, the risk of vaccination during breastfeeding is considered a precaution rather than an absolute contraindication.
Age 6 months to 9 months:
Vaccination is contraindicated in routine circumstances due to increased risk of vaccine-associated encephalitis (YEL-AND). During the pre-restriction era (1950s), 15 encephalitis cases were reported in infants, with 13 (87%) occurring in infants under 4 months and all cases occurring in infants under 7 months. The risk of YEL-AND is inversely proportional to age in this age group.
Vaccination may be considered only when travel to yellow fever-endemic areas is unavoidable and the risk of wild-type yellow fever infection is very high (such as during confirmed epidemics or outbreaks). Expert consultation is mandatory, and a thorough individual risk-benefit assessment must be documented.
Age 9 months to 2 years:
Vaccination is recommended for infants and young children traveling to yellow fever-endemic areas. However, immunogenicity studies demonstrate lower seroprotection rates in children vaccinated before age 2 years:
Seroprotection rate within 5 years post-vaccination: approximately 52% in children vaccinated before age 2 years
This is substantially lower than the >90% seroprotection rate in children vaccinated at age ≥2 years
Booster vaccination in early childhood: Children vaccinated before age 2 years are recommended to receive a reinforcing (booster) dose once they reach age 2 years or older, depending on planned travel to yellow fever-endemic areas. This recommendation is based on evidence of waning seroprotection 3 months to 5 years following primary vaccination in infants. Recent breakthrough infection data suggest this approach may enhance long-term protection.
Age ≥9 years to adolescence:
Children in this age group have immunogenicity and safety profiles similar to adults. Standard vaccination schedules and recommendations apply. A single dose provides sustained protective immunity.
General pediatric considerations:
The vaccine is well-tolerated in children
Mild systemic adverse events (fever, headache, myalgia) are reported in 20–40% of younger vaccinees, with rates typically lower in older children than infants
Serious adverse events are rare in children, with the exception of increased risk in the 6–9 months age group
Vaccination in children can be given concurrently with routine immunizations at separate injection sites
Travel-related mosquito bite prevention is essential for all children, especially those too young for vaccination or in the precautionary age groups
Recommendation: Yellow fever vaccination for individuals aged 60 years and older requires individualized risk-benefit assessment. Vaccination should only be administered when there is a significant and unavoidable risk of acquiring yellow fever infection based on travel itinerary and duration in endemic areas.
No specific cases of overdose with yellow fever vaccine have been documented in the medical literature. The vaccine is supplied as a single-dose vial containing 0.5 mL (one dose), and multi-dose vials are used in limited circumstances under strict medical supervision.
Tindakan pencegahan yang harus diperhatikan sebelum dan sesudah pemberian vaksin demam kuning:
Penilaian pra-vaksinasi: Evaluasi menyeluruh diperlukan terhadap riwayat alergi (terutama terhadap protein telur), status imunitas, kehamilan, dan usia. Formulir skrining pra-vaksinasi standar Kemenkes RI harus diisi sebelum pemberian vaksin di KKP.
Kelompok usia khusus: Untuk individu berusia ≥60 tahun yang akan menerima vaksinasi pertama kali, penilaian risiko-manfaat individual harus dilakukan mengingat peningkatan risiko YEL-AVD dan YEL-AND. Diskusi risiko harus didokumentasikan.
Pasien HIV: Pemeriksaan CD4 terkini (dalam 3 bulan terakhir) wajib dilakukan. Vaksinasi hanya diberikan jika CD4 ≥200 sel/mm³ dan viral load terkontrol. Pemantauan klinis selama 14 hari pasca-vaksinasi direkomendasikan.
Observasi pasca-vaksinasi: Penerima vaksin harus diobservasi selama minimal 30 menit di fasilitas kesehatan setelah penyuntikan untuk mendeteksi reaksi anafilaksis dini. Peralatan resusitasi dan epinefrin harus tersedia.
Penyimpanan rantai dingin: Vaksin harus disimpan pada suhu 2–8°C dan digunakan dalam 1 jam setelah rekonstitusi. Petugas KKP harus memastikan integritas rantai dingin sesuai pedoman BPOM.
| Dosis | Hari sejak sebelumnya | Rentang usia |
|---|---|---|
| Dosis 1 | — | 9 bulan+ |
Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.
Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Medova bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkap