Vaksin polio IPV (Inactivated Poliovirus Vaccine) adalah vaksin inaktif yang mengandung virus polio tipe 1, 2, dan 3 yang telah dimatikan dengan formaldehida. Vaksin ini merangsang imunitas humoral (antibodi serum) terhadap ketiga serotipe poliovirus dan merupakan komponen kunci strategi eradikasi polio global. Indonesia telah mengalami perjalanan panjang dalam eradikasi polio. Setelah dinyatakan bebas polio pada 2014, Indonesia mengalami KLB VDPV (Vaccine-Derived Poliovirus) tipe 2 di beberapa
Vaksin polio IPV (Inactivated Poliovirus Vaccine) adalah vaksin inaktif yang mengandung virus polio tipe 1, 2, dan 3 yang telah dimatikan dengan formaldehida. Vaksin ini merangsang imunitas humoral (antibodi serum) terhadap ketiga serotipe poliovirus dan merupakan komponen kunci strategi eradikasi polio global.
Indonesia telah mengalami perjalanan panjang dalam eradikasi polio. Setelah dinyatakan bebas polio pada 2014, Indonesia mengalami KLB VDPV (Vaccine-Derived Poliovirus) tipe 2 di beberapa provinsi pada 2022–2024. Kemenkes RI merespons dengan kampanye Sub-PIN (Sub-Pekan Imunisasi Nasional) dan memperkuat penggunaan IPV dalam jadwal PIN.
Sesuai strategi Polio Endgame WHO, Indonesia telah melakukan switch dari tOPV (trivalent OPV) ke bOPV (bivalent OPV tipe 1 dan 3) pada 2016, dengan penambahan minimal 1 dosis IPV untuk memastikan imunitas terhadap polio tipe 2. PIN Indonesia saat ini menggunakan kombinasi bOPV dan fIPV (fractional-dose IPV) untuk perlindungan optimal.
Vaksin polio IPV diindikasikan untuk:
Bayi dan anak dalam PIN: Semua bayi Indonesia mendapatkan IPV sebagai bagian dari jadwal PIN Kemenkes RI 2023. Minimal 1 dosis IPV wajib diberikan (pada usia 4 bulan) di samping 4 dosis bOPV.
Jadwal IDAI 2023: IDAI merekomendasikan jadwal IPV-only atau campuran IPV+bOPV:
IPV pada usia 2, 4, 6–18 bulan, dan booster 4–6 tahun
Atau campuran: bOPV pada usia 0, 2, 3 bulan + IPV pada usia 4 bulan
Individu imunokompromi: IPV (bukan OPV) WAJIB digunakan untuk anak dengan imunodefisiensi, anak dari orang tua HIV positif, dan penghuni panti asuhan dengan anak imunokompromi, karena OPV mengandung virus hidup yang berisiko menyebabkan VAPP.
Pelancong: Individu yang bepergian ke negara dengan sirkulasi poliovirus (Afghanistan, Pakistan, serta negara dengan VDPV aktif) memerlukan bukti vaksinasi polio terkini.
Kontraindikasi vaksin polio IPV sangat terbatas:
Kontraindikasi absolut:
Riwayat reaksi anafilaksis terhadap dosis IPV sebelumnya
Hipersensitivitas berat terhadap komponen vaksin (neomisin, streptomisin, polimiksin B, formaldehida dalam jumlah residu)
Kontraindikasi relatif:
Bukan kontraindikasi (keunggulan IPV vs OPV):
Imunodefisiensi (IPV AMAN dan WAJIB untuk kelompok ini — berbeda dengan OPV)
Kehamilan (vaksin inaktif)
Menyusui
Infeksi HIV
Terapi imunosupresan
Profil keamanan vaksin polio IPV sangat baik:
Reaksi lokal (15–30%): Nyeri, kemerahan, dan indurasi ringan di tempat suntikan. Umumnya hilang dalam 1–2 hari.
Reaksi sistemik (5–10%): Demam ringan, rewel (pada bayi), mengantuk, dan berkurangnya nafsu makan. Gejala ringan dan sementara.
Keunggulan keamanan vs OPV: IPV TIDAK dapat menyebabkan Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis (VAPP) atau Vaccine-Derived Poliovirus (VDPV), karena tidak mengandung virus hidup. Ini merupakan keunggulan utama IPV atas OPV, terutama relevan mengingat KLB VDPV di Indonesia.
Reaksi serius: Sangat jarang. Tidak ada hubungan kausal yang terbukti antara IPV dan efek samping serius.
Pedoman pemberian vaksin polio IPV di Indonesia:
Jadwal PIN Kemenkes RI 2023:
bOPV: lahir (0 hari), 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
IPV (fIPV 0,1 mL ID): 4 bulan (bersamaan dengan bOPV-4)
Minimal 1 dosis IPV wajib diberikan
Jadwal IDAI (klinik swasta):
IPV-only: 2, 4, 6–18 bulan (IM), booster 4–6 tahun
Atau vaksin kombinasi heksavalen pada 2, 4, 6 bulan + booster 18 bulan
Rute pemberian:
IPV dosis penuh: 0,5 mL IM di vastus lateralis (bayi) atau deltoid (anak besar)
fIPV: 0,1 mL intradermal di lengan atas
Ketersediaan: IPV tersedia gratis di Puskesmas dan Posyandu melalui PIN. Vaksin kombinasi tersedia di klinik dan RS swasta dengan harga Rp 400.000–900.000 per dosis.
Efikasi vaksin polio IPV:
Serokonversi: 2 dosis IPV menghasilkan serokonversi ≥90% terhadap ketiga serotipe poliovirus. 3 dosis menghasilkan serokonversi 99–100%.
fIPV: 2 dosis fIPV (1/5 dosis) menghasilkan serokonversi 86–95% terhadap polio tipe 2, memadai untuk tujuan program PIN.
Durasi perlindungan: Imunitas humoral bertahan bertahun-tahun hingga seumur hidup setelah seri primer lengkap. Booster pada usia 4–6 tahun memperkuat imunitas jangka panjang.
Keterbatasan vs OPV: IPV kurang efektif dalam merangsang imunitas mukosa usus dibanding OPV. Oleh karena itu, strategi campuran (bOPV+IPV) digunakan di Indonesia untuk mendapatkan keuntungan kedua jenis vaksin.
Menuju eradikasi global: Dengan tinggal 2 negara endemik (Afghanistan, Pakistan) dan tantangan VDPV, transisi global menuju IPV-only merupakan komponen kunci Polio Endgame Strategy WHO 2019–2023.
Interaksi vaksin polio IPV:
Vaksin PIN lain: IPV dapat diberikan bersamaan dengan semua vaksin dalam jadwal PIN (BCG, hepatitis B, DPT-HB-Hib, bOPV, MR, JE, rotavirus) tanpa interaksi negatif.
Vaksin kombinasi: IPV tersedia dalam vaksin kombinasi heksavalen (DTaP-IPV-HB-Hib) yang menyederhanakan jadwal. Beberapa rumah sakit dan klinik swasta di Indonesia menawarkan vaksin kombinasi ini.
bOPV: IPV dan bOPV sering diberikan bersamaan atau dalam jadwal campuran di Indonesia. Pemberian bersamaan aman dan memberikan imunitas mukosa (bOPV) plus imunitas humoral (IPV).
Imunosupresan: IPV aman diberikan dan respons imun mungkin sedikit berkurang, namun tetap direkomendasikan.
Pregnancy: Safe.
IPV (inactivated poliovirus vaccine) is safe during pregnancy.
Can be administered if the pregnant woman is at risk of polio exposure (travel to endemic areas: Afghanistan, Pakistan).
No teratogenic effects observed.
Pregnant women who need polio vaccination should receive IPV, never OPV.
Breastfeeding: Safe — no restrictions.
IPV is an inactivated vaccine and is completely safe during breastfeeding. No modification to breastfeeding schedule required.
Pediatric use:
Part of routine childhood immunization schedule worldwide.
Schedule (US/ACIP): 4 doses at 2, 4, 6–18 months, 4–6 years. Often given as part of combination vaccines (hexavalent: DTaP-IPV-Hib-HepB).
Minimum age: 6 weeks.
IPV does not cause vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP) — this risk exists only with OPV.
Immunocompromised children must receive IPV (never OPV).
Dose: 0.5 mL IM or SC (all ages).
Geriatric use:
Adults with a completed primary series need only 1 lifetime booster if traveling to polio-endemic areas.
Unvaccinated adults: 3-dose series (0, 1–2, 6–12 months).
No upper age limit. No dose adjustment required.
Polio eradication is near-complete — endemic transmission persists only in Afghanistan and Pakistan (as of 2024).
Tindakan pencegahan vaksin polio IPV:
Fractional-dose IPV (fIPV): Indonesia menggunakan fIPV (1/5 dosis standar = 0,1 mL ID) sebagai strategi hemat vaksin sesuai rekomendasi WHO. fIPV menghasilkan serokonversi yang memadai dan memungkinkan Indonesia menjangkau lebih banyak anak dengan stok vaksin yang terbatas.
Teknik intradermal: fIPV harus diberikan secara intradermal yang memerlukan pelatihan khusus. Penyuntikan subkutan atau IM dengan dosis fraksional mengurangi efektivitas.
KLB VDPV: Dalam respons KLB VDPV, Kemenkes RI mungkin menambahkan dosis IPV tambahan atau menggunakan nOPV2 (novel OPV tipe 2) sesuai rekomendasi WHO SAGE.
Rantai dingin: IPV memerlukan penyimpanan pada 2–8°C. Jangan dibekukan.
| Dosis | Merek | Hari sejak sebelumnya | Rentang usia |
|---|---|---|---|
| Dosis 1 | IPOL | — | 2 bulan+ (max: 2 bulan) |
| Dosis 2 | IPOL | 60d | 4 bulan+ (max: 4 bulan) |
| Dosis 3 | IPOL | 60d | 6 bulan+ (max: 2 tahun) |
| Dosis 4 | IPOL | 1095d | 4 tahun+ (max: 6 tahun) |
Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.
Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Medova bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkap