Ikhtisar
Infeksi bakteri serius dari makanan/air terkontaminasi. Demam berkepanjangan dan penyakit sistemik. Endemis di Indonesia.
Gejala
Gejala | Frekuensi | Tingkat keparahan | Awal |
|---|---|---|---|
| Demam | 99% | Sedang | Fase awal |
| Sakit kepala | 80% | Ringan | Fase awal |
| Malaise | 75% | Ringan | Fase awal |
| Menggigil | 55% | Ringan | Fase awal |
| Kelelahan | 65% | Ringan | Fase awal |
| Kehilangan nafsu makan | 70% | Ringan | Fase awal |
| Mialgia | 60% | Ringan | Fase awal |
| Bradikardia | 40% | Ringan | Fase puncak |
| Hepatomegali | 55% | Ringan | Fase puncak |
| Demam tinggi | 97% | Berat | Fase puncak |
| Ruam makulopapular | 20% | Ringan | Fase puncak |
| Splenomegali | 40% | Ringan | Fase puncak |
| Nyeri perut | 50% | Ringan | Fase puncak |
| Kembung | 30% | Ringan | Fase puncak |
| Konstipasi | 35% | Ringan | Fase puncak |
| Dehidrasi | 30% | Sedang | Fase puncak |
| Diare | 40% | Ringan | Fase puncak |
| Mual | 25% | Ringan | Fase puncak |
| Muntah | 20% | Ringan | Fase puncak |
| Urine gelap | 15% | Ringan | Fase puncak |
| Kebingungan | 15% | Berat | Fase akhir |
| Penurunan berat badan | 30% | Sedang | Fase akhir |
| Tinja berdarah | 4% | Berat | Fase akhir |
Penularan
Ikhtisar
Infeksi bakteri yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Ikhtisar
Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar Typhi. Penularan melalui jalur fekal-oral: konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban demam tifoid tertinggi di dunia, dengan estimasi 600.000–800.000 kasus per tahun (data multi-center studies).
Demam tifoid sangat umum di Indonesia dan merupakan penyebab demam yang harus selalu dipertimbangkan pada pasien dengan demam >3 hari, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Penyakit ini terutama menyerang anak usia 5–15 tahun di Indonesia.
Resistensi antibiotik menjadi tantangan yang semakin meningkat. Strain MDR (multidrug-resistant) sudah umum di Indonesia, dan penurunan sensitivitas terhadap siprofloksasin (fluorokuinolon) semakin sering dilaporkan. Di Asia Selatan (terutama Pakistan), strain XDR (extensively drug-resistant) telah muncul — menjadi perhatian global.
Vaksin demam tifoid tersedia namun belum termasuk dalam Program Imunisasi Nasional rutin. IDAI merekomendasikan vaksinasi tifoid mulai usia 2 tahun dengan booster setiap 3 tahun. Dua jenis vaksin tersedia: Typhim Vi (polisakarida, suntikan) dan Ty21a (oral, kapsul hidup).
Tanda darurat
Segera ke IGD jika:
-
Nyeri perut mendadak dan hebat (suspek perforasi usus — kegawatdaruratan bedah)
-
BAB berdarah atau BAB hitam (melena) — perdarahan usus
-
Kebingungan/delirium/penurunan kesadaran (typhoid state)
-
Demam tinggi >40°C yang tidak respons terhadap antipiretik
-
Tanda syok: tekanan darah turun, nadi cepat dan lemah, akral dingin
Gejala terperinci
Tanda dan gejala paling umum
Masa inkubasi: 6–30 hari (umumnya 8–14 hari)
Minggu pertama:
-
Demam yang naik bertahap (step-ladder fever) → menjadi konstan tinggi (39–40°C)
-
Sakit kepala frontal yang hebat
-
Malaise, mialgia, anoreksia
-
Bradikardia relatif (tanda Faget): denyut nadi tidak meningkat sebanding dengan demam — tanda khas tetapi tidak selalu ada
Minggu kedua:
-
Demam konstan tinggi (39–40°C) — plateu
-
Konstipasi (lebih sering daripada diare, terutama pada dewasa) — diare lebih umum pada anak-anak di Indonesia
-
Nyeri perut difus
-
Rose spots: makula merah muda pucat berdiameter 2–4 mm di perut dan dada (10–30% kasus) — sulit terlihat pada kulit gelap
-
Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa)
-
Typhoid state (status tifoid): Apatis, delirium, kebingungan — tanda penyakit berat
Minggu ketiga–keempat (jika tidak diobati):
-
Perdarahan usus (ileum terminal)
-
Perforasi usus — kegawatdaruratan bedah
-
Syok septik
Mengenali gejala adalah langkah pertama untuk respons yang cepat.
Perjalanan penyakit
Perjalanan penyakit tipikal (tanpa pengobatan):
- Masa inkubasi: 6–30 hari (rata-rata 8–14 hari, bergantung dosis).
- Minggu ke-1: Demam bertingkat onset bertahap (naik ~1°C/hari), sakit kepala, malaise, batuk kering, rasa tidak nyaman di perut. Bradikardia relatif (tanda Faget).
- Minggu ke-2: Demam tinggi menetap (39–40°C), distensi abdomen, diare atau konstipasi, hepatosplenomegali. Rose spot (makula berwarna salmon samar di badan) pada 5–30%.
- Minggu ke-3 ("keadaan tifoid"): Keparahan puncak. Kebingungan, obtundasi. Risiko perforasi usus dan perdarahan tertinggi.
- Minggu ke-4 dan seterusnya: Penurunan demam bertahap jika tanpa komplikasi. Tanpa pengobatan, demam dapat bertahan 3–4 minggu.
Dengan antibiotik: Penurunan demam biasanya dalam 3–5 hari. Pemulihan total dalam 2–4 minggu.
Diagnosis
Bagaimana penyakit ini diidentifikasi
Pemeriksaan laboratorium:
-
Kultur darah: Gold standard — positif pada 40–80% kasus minggu pertama. Sensitivitas menurun setelah minggu pertama.
-
Kultur sumsum tulang: Paling sensitif (~90%) — dilakukan jika kultur darah negatif pada kecurigaan kuat.
-
Kultur feses/urin: Positif minggu kedua–ketiga.
-
Widal test: MASIH banyak digunakan di Indonesia (karena murah dan tersedia luas) tetapi KURANG AKURAT — banyak positif palsu (cross-reactivity) dan negatif palsu. Titer O ≥1/320 dan H ≥1/640 sugestif, namun harus diinterpretasi dengan hati-hati.
-
Tubex TF / Typhidot: Tes cepat deteksi antibodi — sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada Widal.
-
Darah rutin: Leukopenia (jumlah leukosit rendah), anemia ringan, trombositopenia.
Pelaporan: Demam tifoid termasuk penyakit wajib lapor.
Pengobatan
Metode pengobatan yang tersedia
Antibiotik (terapi definitif):
-
Azitromisin 1g dosis tunggal atau 500 mg/hari selama 5–7 hari: Lini pertama di Indonesia mengingat peningkatan resistensi fluorokuinolon. Efektif untuk strain MDR.
-
Seftriakson IV 2g/hari selama 10–14 hari: Kasus berat, MDR, atau tidak bisa minum obat oral.
-
Hindari siprofloksasin sebagai empiris di Asia: Resistensi fluorokuinolon sudah tinggi.
-
Deksametason 3 mg/kg dosis pertama, lalu 1 mg/kg/6 jam selama 48 jam: Hanya untuk typhoid state/syok — mengurangi mortalitas ~50% (uji Hoffman).
Perawatan suportif:
-
Tirah baring
-
Hidrasi adekuat (oral atau IV)
-
Antipiretik (parasetamol)
-
Diet lunak — hindari makanan tinggi serat (risiko perforasi usus)
Perforasi usus: Kegawatdaruratan bedah — laparotomi segera + antibiotik spektrum luas.
Sebagian besar kasus dapat ditangani secara efektif dengan diagnosis dini.
Detail pencegahan
Cara melindungi diri sendiri
Vaksinasi:
-
Typhim Vi (polisakarida): Dosis tunggal IM, usia ≥2 tahun, booster setiap 3 tahun. Efektivitas ~70%.
-
Ty21a (oral): 3–4 kapsul selang-seling hari, usia ≥6 tahun, booster setiap 3–5 tahun. Efektivitas ~70%.
-
Typhoid Conjugate Vaccine (TCV/Typbar-TCV): Usia ≥6 bulan, dosis tunggal, efikasi >80%. Direkomendasikan WHO untuk program nasional.
-
Rekomendasi IDAI: Vaksinasi tifoid mulai usia 2 tahun, booster setiap 3 tahun.
-
Belum dalam Program Imunisasi Nasional rutin.
Higiene makanan dan air (SANGAT PENTING di Indonesia):
-
Cuci tangan dengan sabun setelah ke toilet dan sebelum makan
-
Minum air matang/kemasan
-
Masak makanan hingga matang sempurna
-
Hindari makanan mentah dari sumber tidak terpercaya
-
Waspada street food — pilih pedagang yang menjaga kebersihan
Persiapan adalah perlindungan terbaik.
Saran perjalanan
Wisatawan ke Indonesia:
-
Vaksinasi tifoid sangat direkomendasikan sebelum kedatangan
-
Patuhi ketat aturan higiene makanan dan air — "masak, rebus, kupas, atau lupakan"
-
Wisatawan backpacker dan street food enthusiast: risiko lebih tinggi
-
Jika demam >3 hari selama perjalanan di Indonesia: periksakan diri — pertimbangkan kemungkinan tifoid
-
Bawa antibiotik cadangan (azitromisin) jika perjalanan ke daerah terpencil tanpa akses layanan kesehatan
Seberapa umum?
Statistik dan data geografis
Indonesia termasuk 5 besar negara dengan beban demam tifoid tertinggi di dunia. Estimasi 600.000–800.000 kasus/tahun dengan insidensi ~500/100.000 populasi. Penyakit ini endemis di seluruh wilayah Indonesia, dengan insidensi tertinggi di daerah padat penduduk dengan sanitasi kurang memadai.
Resistensi antibiotik meningkat: strain MDR (resisten terhadap kloramfenikol, amoksisilin, dan TMP-SMX) sudah umum. Penurunan sensitivitas terhadap siprofloksasin semakin sering dilaporkan. Strain XDR belum dilaporkan dari Indonesia tetapi sudah menjadi perhatian regional (Pakistan).
Anak usia 5–15 tahun merupakan kelompok usia yang paling sering terkena di Indonesia.
Faktor risiko
Siapa yang paling berisiko
Bepergian ke daerah endemik, mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, praktik kebersihan yang buruk.
Detail komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi
Perforasi usus (1–3%): Kegawatdaruratan bedah — nyeri perut mendadak yang hebat, tanda peritonitis. Mortalitas tinggi jika terlambat ditangani. Perdarahan usus (2–8%): Dari ulkus di plak Peyer ileum terminal. Dapat masif dan mengancam jiwa. Typhoid state/ensefalopati: Apatis, delirium, koma — tanda penyakit berat. Miokarditis: Jarang, namun dapat menyebabkan aritmia. Carrier kronis (~1–5%): Ekskresi Salmonella Typhi dalam feses >1 tahun setelah sembuh — sumber penularan penting. Kekambuhan (relapse): 5–20% — biasanya lebih ringan dari episode pertama.
Pemulihan dan prospek
Hasil yang diharapkan dan pemulihan
Dengan pengobatan: CFR <1% dengan terapi antibiotik yang tepat. Pemulihan total diharapkan dalam 2–4 minggu.
Tanpa pengobatan: CFR 10–30%, terutama akibat perdarahan usus, perforasi, atau infeksi sekunder.
Komplikasi:
-
Perforasi usus: 1–3% (penyebab kematian tersering).
-
Perdarahan saluran cerna: 10–20%.
-
Relaps: 5–10% (1–3 minggu setelah pemulihan awal, biasanya lebih ringan).
-
Karier kronis: 2–5% menjadi pembawa kronis (pelepasan bakteri melalui feses >12 bulan), terutama pada wanita dengan penyakit kandung empedu.
Resistensi obat: Tifoid resisten obat secara luas (XDR) menjadi kekhawatiran yang meningkat di Asia Selatan (resisten terhadap semua antibiotik oral lini pertama kecuali azithromycin). Memengaruhi pilihan pengobatan dan prognosis.
