Ikhtisar
Infeksi bakteri airborne yang terutama menyerang paru. Salah satu pembunuh penyakit menular teratas dunia. Indonesia peringkat ke-2 global.
Gejala
Gejala | Frekuensi | Tingkat keparahan | Awal |
|---|---|---|---|
| Batuk | 95% | Sedang | Fase awal |
| Demam | 60% | Ringan | Fase awal |
| Kehilangan nafsu makan | 55% | Ringan | Fase awal |
| Keringat malam | 70% | Ringan | Fase awal |
| Penurunan berat badan | 65% | Sedang | Fase awal |
| Menggigil | 30% | Ringan | Fase awal |
| Malaise | 60% | Ringan | Fase awal |
| Hemoptisis | 20% | Berat | Fase puncak |
| Batuk berdahak | 80% | Sedang | Fase puncak |
| Sesak dada | 40% | Sedang | Fase puncak |
| Sesak napas | 35% | Sedang | Fase puncak |
| Mengi | 15% | Ringan | Fase puncak |
| Nyeri punggung | 10% | Sedang | Fase akhir |
| Kebingungan | 3% | Berat | Fase akhir |
| Sakit kepala | 8% | Sedang | Fase akhir |
| Pembengkakan sendi | 5% | Ringan | Fase akhir |
| Kaku kuduk | 5% | Berat | Fase akhir |
| Urine gelap | 3% | Ringan | Fase akhir |
| Kelelahan | 75% | Ringan | Semua fase |
| Kelenjar getah bening bengkak | 25% | Ringan | Semua fase |
| Nyeri perut | 8% | Ringan | Semua fase |
Penularan
Ikhtisar
Penyakit menular yang terutama menyerang paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Ikhtisar
Tuberkulosis (TB/TBC) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (basil Koch). TB merupakan penyakit menular penyebab kematian nomor satu di dunia dari agen infeksi tunggal, dengan ~10,6 juta kasus baru dan ~1,3 juta kematian per tahun secara global (WHO, 2023).
Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia dalam beban TB (setelah India), dengan estimasi ~969.000 kasus baru per tahun (WHO Global TB Report 2023). Prevalensi TB di Indonesia jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan — banyak kasus belum terdeteksi dan belum diobati (missing cases). Indonesia menyumbang ~10% dari total kasus TB global.
TB merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Kemenkes RI menjadikan eliminasi TB sebagai prioritas nasional dengan target Indonesia Bebas TB 2030. Program Nasional Penanggulangan TB (P2TB) meliputi:
-
Penemuan aktif kasus (active case finding) — termasuk investigasi kontak dan skrining kelompok risiko tinggi
-
Pengobatan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course)
-
Pengobatan TB resisten obat (MDR-TB dan XDR-TB) dengan rejimen terbaru (BPaL)
-
Pengobatan TB laten (Terapi Pencegahan Tuberkulosis/TPT)
-
Kolaborasi TB-HIV dan TB-DM (Diabetes Mellitus)
Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) diberikan segera setelah lahir dalam Program Imunisasi Nasional. Vaksin diproduksi oleh Bio Farma. BCG efektif mencegah TB berat pada anak (TB milier, meningitis TB) tetapi proteksinya terhadap TB paru dewasa bervariasi (0–80%).
Faktor risiko TB di Indonesia:
-
Kepadatan penduduk tinggi dan ventilasi rumah yang buruk
-
Ko-morbiditas: HIV (~2,6% ko-infeksi TB-HIV), diabetes mellitus (Indonesia peringkat 5 dunia untuk DM — meningkatkan risiko TB 3x), malnutrisi, merokok
-
Akses layanan kesehatan yang terbatas di daerah terpencil
-
Stigma sosial yang masih kuat terhadap penderita TB
-
TB resisten obat yang semakin meningkat
Tanda darurat
Segera ke layanan kesehatan jika:
-
Batuk berdarah (hemoptisis) — terutama jika volume banyak → IGD
-
Batuk ≥2 minggu + demam sore/malam + keringat malam + penurunan berat badan → periksa TB
-
Sakit kepala progresif + kaku kuduk + penurunan kesadaran (suspek meningitis TB) → IGD
-
Sesak napas berat (efusi pleura masif atau pneumotoraks)
-
Nyeri punggung progresif + kelemahan tungkai (suspek spondilitis TB dengan kompresi saraf)
Kunjungi Puskesmas atau RS untuk pemeriksaan TCM/GeneXpert — GRATIS di fasilitas kesehatan pemerintah.
Gejala terperinci
Tanda dan gejala paling umum
TB Paru (bentuk tersering, ~85% kasus):
-
Batuk ≥2 minggu (tanda kardinal) — batuk berdahak, dapat disertai darah
-
Batuk darah (hemoptisis): Dari ringan (bercak darah) hingga masif (mengancam jiwa)
-
Demam subfebris berkepanjangan: Terutama sore/malam hari ("demam malam")
-
Keringat malam (night sweats): Terbangun dengan pakaian basah
-
Penurunan berat badan yang tidak disengaja: Penurunan ≥5% dalam beberapa bulan
-
Anoreksia, malaise, kelelahan kronis
-
Nyeri dada: Jika ada keterlibatan pleura (pleuritis TB)
-
Sesak napas: Jika kerusakan paru luas atau efusi pleura
TB Ekstra Paru (~15% kasus, lebih sering pada ko-infeksi HIV):
-
TB kelenjar getah bening (limfadenitis TB): Pembengkakan kelenjar leher yang tidak nyeri, terkadang dengan fistula — bentuk ekstra paru tersering di Indonesia
-
TB pleura: Efusi pleura unilateral — nyeri dada pleuritik, sesak napas
-
TB tulang (spondilitis TB/Pott's disease): Nyeri punggung kronis, deformitas tulang belakang (gibbus), abses dingin
-
TB meningitis: Sakit kepala progresif, kaku kuduk, penurunan kesadaran — mortalitas tinggi
-
TB milier (diseminata): Penyebaran hematogen — demam, penurunan berat badan, hepatosplenomegali, infiltrat milier pada rontgen dada
-
TB abdomen: Asites, nyeri perut kronis, obstruksi usus
-
TB genitourinaria: Disuria steril, hematuria
TB pada anak (pertimbangan IDAI):
-
Gejala sering tidak khas: gagal tumbuh, demam berkepanjangan tanpa penyebab jelas, pembesaran kelenjar leher
-
Skor TB IDAI digunakan untuk penegakan diagnosis TB anak di Indonesia
Mengenali gejala adalah langkah pertama untuk respons yang cepat.
Perjalanan penyakit
Perjalanan penyakit tipikal:
- Infeksi primer: Inhalasi basil M. tuberculosis → kompleks primer di paru. Sebagian besar individu (90%) menahan infeksi → infeksi TB laten (LTBI). Asimtomatik, TST/IGRA positif.
- TB laten (bulan hingga dekade): Tanpa gejala, tidak menular. Basil bertahan dorman dalam granuloma.
- Reaktivasi / TB aktif: Onset insidius selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan:
- Batuk produktif kronis (>2–3 minggu), hemoptisis (10–20%).
- Gejala konstitusional: keringat malam, demam, penurunan berat badan, kelelahan.
- Penyakit kavitas lobus atas pada rontgen dada (temuan klasik).
- Penyakit progresif (tanpa pengobatan): Kavitasi, penyakit bilateral, penyebaran endobronkial. Kakeksia ("konsumsi"). Diseminasi milier atau TB ekstra paru (kelenjar getah bening, pleura, tulang, meningen, genitourinari) pada individu imunosupresi.
Daya tular: Pasien dengan sputum BTA positif paling menular. Daya tular menurun drastis dalam 2 minggu pengobatan efektif.
Diagnosis
Bagaimana penyakit ini diidentifikasi
Pemeriksaan mikrobiologi:
-
TCM (Tes Cepat Molekuler)/GeneXpert MTB/RIF: Lini pertama di Indonesia. Mendeteksi M. tuberculosis DAN resistensi rifampisin dalam <2 jam. Tersedia di >600 fasilitas di Indonesia.
-
Mikroskopis BTA (Basil Tahan Asam): Pewarnaan Ziehl-Neelsen dari sputum. Murah, tersedia luas, tetapi sensitivitas terbatas (~50–60% pada kasus smear-positive). Masih digunakan di fasilitas tanpa GeneXpert.
-
Kultur Mycobacterium: Media cair (MGIT — hasil 1–3 minggu) atau padat (Löwenstein-Jensen — hasil 4–8 minggu). Gold standard. Diperlukan untuk uji sensitivitas obat (drug susceptibility testing/DST).
-
LPA (Line Probe Assay): Deteksi cepat resistensi isoniazid dan rifampisin dari sampel positif.
Pemeriksaan radiologis:
-
Rontgen dada (chest X-ray): Infiltrat apikal, kavitas, fibrosis — sugestif tetapi tidak diagnostik. Wajib pada semua suspek TB.
-
CT Scan: Untuk TB milier, TB kelenjar, TB tulang.
Pemeriksaan imunologis (untuk TB laten):
-
IGRA (Interferon-Gamma Release Assay/QuantiFERON-TB Gold): Spesifik (tidak dipengaruhi BCG). Belum tersedia luas di Indonesia.
-
Uji tuberkulin (Mantoux/TST): Dipengaruhi vaksinasi BCG. Masih digunakan secara luas di Indonesia, terutama untuk skrining TB anak.
Diagnosis TB anak (Skor TB IDAI): Sistem skoring yang mencakup kontak TB, uji tuberkulin, gejala klinis, nutrisi, dan rontgen dada. Skor ≥6 → diagnosis TB anak.
Pelaporan: TB adalah penyakit wajib lapor. Semua kasus dicatat dalam SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis).
Pengobatan
Metode pengobatan yang tersedia
Pengobatan TB menurut Program Nasional (Kemenkes RI) — strategi DOTS:
TB paru sensitif obat (kategori 1 — kasus baru):
-
Fase intensif (2 bulan): HRZE (Isoniazid + Rifampisin + Pirazinamid + Etambutol) — Obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT/FDC)
-
Fase lanjutan (4 bulan): HR (Isoniazid + Rifampisin) — KDT
-
Total pengobatan: 6 bulan
-
DOTS (Directly Observed Treatment): PMO (Pengawas Menelan Obat) memastikan pasien menelan obat setiap hari — kunci keberhasilan pengobatan dan pencegahan resistensi
TB paru sensitif obat (kategori 2 — pengobatan ulang):
- Fase intensif: 3 bulan HRZES (ditambah Streptomisin bulan pertama) → Fase lanjutan: 5 bulan HRE
TB Resisten Obat (MDR-TB/XDR-TB):
-
MDR-TB: Resisten minimal terhadap isoniazid DAN rifampisin. Pengobatan dengan rejimen berbasis bedaquilin (BPaL, BPaLC): Bedaquilin + Pretomanid + Linezolid (± Clofazimin). Durasi 6–9 bulan (rejimen pendek) atau 18–20 bulan (rejimen panjang).
-
XDR-TB: Resisten tambahan terhadap fluorokuinolon dan minimal satu dari bedaquilin/linezolid.
-
Indonesia memiliki ~24.000 kasus MDR/RR-TB per tahun (estimasi WHO). Akses pengobatan MDR-TB telah diperluas di RS rujukan seluruh Indonesia.
TB pada anak (IDAI): OAT (Obat Anti Tuberkulosis) anak dengan dosis sesuai berat badan. Formulasi ramah anak (dispersible tablets).
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) — untuk TB laten:
-
Isoniazid 6–9 bulan (6H/9H), atau Rifapentin + Isoniazid 3 bulan (3HP), atau Rifampisin 4 bulan (4R)
-
Diberikan pada kontak erat pasien TB, ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), dan kelompok risiko tinggi lainnya
Efek samping OAT yang perlu dipantau:
-
Hepatotoksisitas (H, R, Z): periksa fungsi hati baseline dan saat gejala
-
Neuropati perifer (H): suplementasi piridoksin (vitamin B6)
-
Neuritis optik (E): periksa ketajaman penglihatan dan persepsi warna
-
Artralgia/hiperurisemia (Z)
-
Ototoksisitas (Streptomisin, Aminoglikosida)
Sebagian besar kasus dapat ditangani secara efektif dengan diagnosis dini.
Detail pencegahan
Cara melindungi diri sendiri
Vaksinasi BCG:
-
Diberikan segera setelah lahir (idealnya <24 jam) dalam Program Imunisasi Nasional
-
Diproduksi oleh Bio Farma
-
Efektif mencegah TB berat pada anak: meningitis TB (~73%) dan TB milier (~77%)
-
Proteksi terhadap TB paru dewasa bervariasi (0–80%) — TIDAK cukup untuk eliminasi TB
-
Bekas luka BCG (scar): tanda vaksinasi, tetapi ketidakadaan scar bukan berarti tidak divaksinasi
Pengendalian infeksi TB:
-
Etika batuk (tutup mulut/hidung saat batuk)
-
Ventilasi ruangan yang baik — buka jendela, sirkulasi udara
-
Pencahayaan alami (sinar UV membunuh M. tuberculosis)
-
Penggunaan masker (terutama di fasilitas kesehatan)
-
Skrining kontak erat pasien TB → TPT jika TB laten
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT):
-
Investigasi kontak: semua anggota keluarga pasien TB diperiksa untuk gejala dan tanda TB
-
TPT untuk kontak erat (terutama anak <5 tahun dan ODHA) yang terbukti infeksi TB laten tetapi belum sakit TB aktif
Penemuan kasus aktif (Active Case Finding/ACF):
-
Skrining kelompok risiko tinggi: kontak erat, ODHA, diabetesi, penghuni lapas/rutan, lansia di panti
-
Teknologi baru: mobile X-ray, computer-aided detection (CAD) untuk rontgen dada
Persiapan adalah perlindungan terbaik.
Saran perjalanan
Wisatawan ke Indonesia:
-
Risiko TB untuk wisatawan jangka pendek di area turis: rendah
-
Wisatawan jangka panjang (>3 bulan): Tes IGRA/TST sebelum dan sesudah perjalanan. Serokonversi menunjukkan infeksi TB laten → pertimbangkan TPT.
-
Tenaga kesehatan/relawan yang bekerja di fasilitas kesehatan Indonesia: risiko lebih tinggi — skrining pra dan pasca keberangkatan
-
Batuk ≥2 minggu setelah perjalanan ke Indonesia: periksakan untuk TB
-
Hindari kontak dekat berkepanjangan dengan penderita batuk kronis di ruangan tertutup tanpa ventilasi
Seberapa umum?
Statistik dan data geografis
Indonesia: negara dengan beban TB tertinggi ke-2 di dunia
Data WHO Global TB Report 2023:
-
Estimasi kasus baru: ~969.000/tahun
-
Kasus yang dilaporkan dan diobati: ~717.000 (2022) — "missing cases" masih signifikan
-
Mortalitas TB (tanpa HIV): ~134.000/tahun
-
MDR/RR-TB: ~24.000 kasus/tahun (estimasi)
-
Ko-infeksi TB-HIV: ~2,6%
Variasi regional: beban tinggi di Jawa (populasi padat), Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Faktor pendorong: kepadatan penduduk, prevalensi merokok tinggi (65% pria), prevalensi DM tinggi, kemiskinan, akses layanan kesehatan tidak merata.
Target nasional: Indonesia Bebas TB 2030 (Perpres No. 67/2021). Strategi: peningkatan penemuan kasus, pengobatan yang berhasil ≥90%, pengobatan TB laten, dan investasi dalam penelitian.
Faktor risiko
Siapa yang paling berisiko
Bepergian ke negara dengan beban tinggi (Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, Pasifik Barat), koinfeksi HIV, terapi imunosupresif, kontak erat dengan kasus TB aktif, petugas kesehatan, penghuni tempat tinggal bersama (tempat penampungan, penjara), malnutrisi, diabetes, merokok, silikosis.
Detail komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi
TB paru:
-
Kerusakan paru permanen: fibrosis, bronkiektasis, kavitas — menyebabkan gangguan fungsi paru kronis
-
Hemoptisis masif: perdarahan dari arteri bronkial — mengancam jiwa
-
Pneumotoraks: ruptur kavitas ke rongga pleura
-
Aspergiloma: infeksi jamur pada kavitas TB lama ("fungus ball")
TB ekstra paru:
-
Meningitis TB: mortalitas 15–40%, gejala sisa neurologis pada ~50% penyintas
-
Spondilitis TB (Pott's disease): deformitas tulang belakang (gibbus), kompresi medula spinalis → paraplegia
-
Perikarditis TB: efusi perikard → tamponade jantung, perikarditis konstriktif
-
Sindrom Addison: insufisiensi adrenal akibat destruksi kelenjar adrenal oleh TB
TB resisten obat:
-
MDR-TB dan XDR-TB: pengobatan lebih lama, efek samping lebih berat, angka kesembuhan lebih rendah
-
Indonesia: ~24.000 kasus MDR/RR-TB per tahun (estimasi)
Ko-morbiditas di Indonesia:
-
TB-DM: Indonesia peringkat 5 dunia untuk diabetes — DM meningkatkan risiko TB 3x dan memperburuk outcome pengobatan
-
TB-HIV: ~2,6% pasien TB di Indonesia positif HIV
-
TB pada perokok: merokok meningkatkan risiko TB 2–3x — prevalensi merokok pria Indonesia ~65%
Pemulihan dan prospek
Hasil yang diharapkan dan pemulihan
TB laten: Risiko reaktivasi seumur hidup 5–10% pada individu imunokompeten. Pengobatan dengan isoniazid (9 bulan) atau rifampin (4 bulan) mengurangi risiko reaktivasi sebesar 60–90%.
TB paru yang sensitif obat:
-
Dengan pengobatan standar 6 bulan (2HRZE/4HR): angka kesembuhan >95%.
-
Tanpa pengobatan: ~50% meninggal dalam 5 tahun, ~25% sembuh spontan, ~25% menjadi sakit kronis.
TB resisten obat:
-
MDR-TB (resisten terhadap isoniazid + rifampin): durasi pengobatan 9–20 bulan, angka kesembuhan 50–75%.
-
XDR-TB: angka kesembuhan 30–50% dengan agen yang lebih baru (bedaquiline, pretomanid, linezolid).
TB ekstra paru: Prognosis bergantung pada lokasi. Meningitis TB memiliki mortalitas 20–30% dan morbiditas neurologis signifikan.
