Hanya untuk tujuan informasi — bukan nasihat medis
Dapatkan panduan vaksinasi gratis dan rekomendasi klinik terdekat — langsung ke email Anda.
Seberapa serius?
Risiko kematian
Ya
Vaksin tersedia?
Waktu hingga gejala
Negara terdampak
Wabah aktif
Risiko bagi pelancong jangka pendek umumnya rendah. Risiko meningkat dengan tinggal lama (>3 bulan), pekerjaan di bidang kesehatan, atau kontak dekat dengan populasi lokal di negara dengan beban tinggi. Pertimbangkan tes TB sebelum dan sesudah perjalanan. Vaksin BCG memiliki efikasi terbatas pada orang dewasa.
Infeksi bakteri airborne yang terutama menyerang paru. Salah satu pembunuh penyakit menular teratas dunia. Indonesia peringkat ke-2 global.
Gejala | Frekuensi | Tingkat keparahan | Awal |
|---|---|---|---|
| Batuk | 95% | Sedang | Fase awal |
| Demam | 60% | Ringan | Fase awal |
| Kehilangan nafsu makan | 55% | Ringan | Fase awal |
| Keringat malam | 70% | Ringan | Fase awal |
| Penurunan berat badan | 65% | Sedang | Fase awal |
| Menggigil | 30% | Ringan | Fase awal |
| Malaise | 60% | Ringan | Fase awal |
| Hemoptisis | 20% | Berat | Fase puncak |
| Batuk berdahak | 80% | Sedang | Fase puncak |
| Sesak dada | 40% | Sedang | Fase puncak |
| Sesak napas | 35% | Sedang | Fase puncak |
| Mengi | 15% | Ringan | Fase puncak |
| Nyeri punggung | 10% | Sedang | Fase akhir |
| Kebingungan | 3% | Berat | Fase akhir |
| Sakit kepala | 8% | Sedang | Fase akhir |
| Pembengkakan sendi | 5% | Ringan | Fase akhir |
| Kaku kuduk | 5% | Berat | Fase akhir |
| Urine gelap | 3% | Ringan | Fase akhir |
| Kelelahan | 75% | Ringan | Semua fase |
| Kelenjar getah bening bengkak | 25% | Ringan | Semua fase |
| Nyeri perut | 8% | Ringan | Semua fase |
Penyakit menular yang terutama menyerang paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Tuberkulosis (TB/TBC) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (basil Koch). TB merupakan penyakit menular penyebab kematian nomor satu di dunia dari agen infeksi tunggal, dengan ~10,6 juta kasus baru dan ~1,3 juta kematian per tahun secara global (WHO, 2023).
Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia dalam beban TB (setelah India), dengan estimasi ~969.000 kasus baru per tahun (WHO Global TB Report 2023). Prevalensi TB di Indonesia jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan — banyak kasus belum terdeteksi dan belum diobati (missing cases). Indonesia menyumbang ~10% dari total kasus TB global.
TB merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Kemenkes RI menjadikan eliminasi TB sebagai prioritas nasional dengan target Indonesia Bebas TB 2030. Program Nasional Penanggulangan TB (P2TB) meliputi:
Penemuan aktif kasus (active case finding) — termasuk investigasi kontak dan skrining kelompok risiko tinggi
Pengobatan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course)
Pengobatan TB resisten obat (MDR-TB dan XDR-TB) dengan rejimen terbaru (BPaL)
Pengobatan TB laten (Terapi Pencegahan Tuberkulosis/TPT)
Kolaborasi TB-HIV dan TB-DM (Diabetes Mellitus)
Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) diberikan segera setelah lahir dalam Program Imunisasi Nasional. Vaksin diproduksi oleh Bio Farma. BCG efektif mencegah TB berat pada anak (TB milier, meningitis TB) tetapi proteksinya terhadap TB paru dewasa bervariasi (0–80%).
Faktor risiko TB di Indonesia:
Kepadatan penduduk tinggi dan ventilasi rumah yang buruk
Ko-morbiditas: HIV (~2,6% ko-infeksi TB-HIV), diabetes mellitus (Indonesia peringkat 5 dunia untuk DM — meningkatkan risiko TB 3x), malnutrisi, merokok
Akses layanan kesehatan yang terbatas di daerah terpencil
Stigma sosial yang masih kuat terhadap penderita TB
TB resisten obat yang semakin meningkat
Segera ke layanan kesehatan jika:
Batuk berdarah (hemoptisis) — terutama jika volume banyak → IGD
Batuk ≥2 minggu + demam sore/malam + keringat malam + penurunan berat badan → periksa TB
Sakit kepala progresif + kaku kuduk + penurunan kesadaran (suspek meningitis TB) → IGD
Sesak napas berat (efusi pleura masif atau pneumotoraks)
Nyeri punggung progresif + kelemahan tungkai (suspek spondilitis TB dengan kompresi saraf)
Kunjungi Puskesmas atau RS untuk pemeriksaan TCM/GeneXpert — GRATIS di fasilitas kesehatan pemerintah.
Tanda dan gejala paling umum
TB Paru (bentuk tersering, ~85% kasus):
Batuk ≥2 minggu (tanda kardinal) — batuk berdahak, dapat disertai darah
Batuk darah (hemoptisis): Dari ringan (bercak darah) hingga masif (mengancam jiwa)
Demam subfebris berkepanjangan: Terutama sore/malam hari ("demam malam")
Keringat malam (night sweats): Terbangun dengan pakaian basah
Penurunan berat badan yang tidak disengaja: Penurunan ≥5% dalam beberapa bulan
Anoreksia, malaise, kelelahan kronis
Nyeri dada: Jika ada keterlibatan pleura (pleuritis TB)
Sesak napas: Jika kerusakan paru luas atau efusi pleura
TB Ekstra Paru (~15% kasus, lebih sering pada ko-infeksi HIV):
TB kelenjar getah bening (limfadenitis TB): Pembengkakan kelenjar leher yang tidak nyeri, terkadang dengan fistula — bentuk ekstra paru tersering di Indonesia
TB pleura: Efusi pleura unilateral — nyeri dada pleuritik, sesak napas
TB tulang (spondilitis TB/Pott's disease): Nyeri punggung kronis, deformitas tulang belakang (gibbus), abses dingin
TB meningitis: Sakit kepala progresif, kaku kuduk, penurunan kesadaran — mortalitas tinggi
TB milier (diseminata): Penyebaran hematogen — demam, penurunan berat badan, hepatosplenomegali, infiltrat milier pada rontgen dada
TB abdomen: Asites, nyeri perut kronis, obstruksi usus
TB genitourinaria: Disuria steril, hematuria
TB pada anak (pertimbangan IDAI):
Gejala sering tidak khas: gagal tumbuh, demam berkepanjangan tanpa penyebab jelas, pembesaran kelenjar leher
Skor TB IDAI digunakan untuk penegakan diagnosis TB anak di Indonesia
Mengenali gejala adalah langkah pertama untuk respons yang cepat.
Perjalanan penyakit tipikal:
Daya tular: Pasien dengan sputum BTA positif paling menular. Daya tular menurun drastis dalam 2 minggu pengobatan efektif.
Bagaimana penyakit ini diidentifikasi
Pemeriksaan mikrobiologi:
TCM (Tes Cepat Molekuler)/GeneXpert MTB/RIF: Lini pertama di Indonesia. Mendeteksi M. tuberculosis DAN resistensi rifampisin dalam <2 jam. Tersedia di >600 fasilitas di Indonesia.
Mikroskopis BTA (Basil Tahan Asam): Pewarnaan Ziehl-Neelsen dari sputum. Murah, tersedia luas, tetapi sensitivitas terbatas (~50–60% pada kasus smear-positive). Masih digunakan di fasilitas tanpa GeneXpert.
Kultur Mycobacterium: Media cair (MGIT — hasil 1–3 minggu) atau padat (Löwenstein-Jensen — hasil 4–8 minggu). Gold standard. Diperlukan untuk uji sensitivitas obat (drug susceptibility testing/DST).
LPA (Line Probe Assay): Deteksi cepat resistensi isoniazid dan rifampisin dari sampel positif.
Pemeriksaan radiologis:
Rontgen dada (chest X-ray): Infiltrat apikal, kavitas, fibrosis — sugestif tetapi tidak diagnostik. Wajib pada semua suspek TB.
CT Scan: Untuk TB milier, TB kelenjar, TB tulang.
Pemeriksaan imunologis (untuk TB laten):
IGRA (Interferon-Gamma Release Assay/QuantiFERON-TB Gold): Spesifik (tidak dipengaruhi BCG). Belum tersedia luas di Indonesia.
Uji tuberkulin (Mantoux/TST): Dipengaruhi vaksinasi BCG. Masih digunakan secara luas di Indonesia, terutama untuk skrining TB anak.
Diagnosis TB anak (Skor TB IDAI): Sistem skoring yang mencakup kontak TB, uji tuberkulin, gejala klinis, nutrisi, dan rontgen dada. Skor ≥6 → diagnosis TB anak.
Pelaporan: TB adalah penyakit wajib lapor. Semua kasus dicatat dalam SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis).
Metode pengobatan yang tersedia
Pengobatan TB menurut Program Nasional (Kemenkes RI) — strategi DOTS:
TB paru sensitif obat (kategori 1 — kasus baru):
Fase intensif (2 bulan): HRZE (Isoniazid + Rifampisin + Pirazinamid + Etambutol) — Obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT/FDC)
Fase lanjutan (4 bulan): HR (Isoniazid + Rifampisin) — KDT
Total pengobatan: 6 bulan
DOTS (Directly Observed Treatment): PMO (Pengawas Menelan Obat) memastikan pasien menelan obat setiap hari — kunci keberhasilan pengobatan dan pencegahan resistensi
TB paru sensitif obat (kategori 2 — pengobatan ulang):
TB Resisten Obat (MDR-TB/XDR-TB):
MDR-TB: Resisten minimal terhadap isoniazid DAN rifampisin. Pengobatan dengan rejimen berbasis bedaquilin (BPaL, BPaLC): Bedaquilin + Pretomanid + Linezolid (± Clofazimin). Durasi 6–9 bulan (rejimen pendek) atau 18–20 bulan (rejimen panjang).
XDR-TB: Resisten tambahan terhadap fluorokuinolon dan minimal satu dari bedaquilin/linezolid.
Indonesia memiliki ~24.000 kasus MDR/RR-TB per tahun (estimasi WHO). Akses pengobatan MDR-TB telah diperluas di RS rujukan seluruh Indonesia.
TB pada anak (IDAI): OAT (Obat Anti Tuberkulosis) anak dengan dosis sesuai berat badan. Formulasi ramah anak (dispersible tablets).
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) — untuk TB laten:
Isoniazid 6–9 bulan (6H/9H), atau Rifapentin + Isoniazid 3 bulan (3HP), atau Rifampisin 4 bulan (4R)
Diberikan pada kontak erat pasien TB, ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), dan kelompok risiko tinggi lainnya
Efek samping OAT yang perlu dipantau:
Hepatotoksisitas (H, R, Z): periksa fungsi hati baseline dan saat gejala
Neuropati perifer (H): suplementasi piridoksin (vitamin B6)
Neuritis optik (E): periksa ketajaman penglihatan dan persepsi warna
Artralgia/hiperurisemia (Z)
Ototoksisitas (Streptomisin, Aminoglikosida)
Sebagian besar kasus dapat ditangani secara efektif dengan diagnosis dini.
Cara melindungi diri sendiri
Vaksinasi BCG:
Diberikan segera setelah lahir (idealnya <24 jam) dalam Program Imunisasi Nasional
Diproduksi oleh Bio Farma
Efektif mencegah TB berat pada anak: meningitis TB (~73%) dan TB milier (~77%)
Proteksi terhadap TB paru dewasa bervariasi (0–80%) — TIDAK cukup untuk eliminasi TB
Bekas luka BCG (scar): tanda vaksinasi, tetapi ketidakadaan scar bukan berarti tidak divaksinasi
Pengendalian infeksi TB:
Etika batuk (tutup mulut/hidung saat batuk)
Ventilasi ruangan yang baik — buka jendela, sirkulasi udara
Pencahayaan alami (sinar UV membunuh M. tuberculosis)
Penggunaan masker (terutama di fasilitas kesehatan)
Skrining kontak erat pasien TB → TPT jika TB laten
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT):
Investigasi kontak: semua anggota keluarga pasien TB diperiksa untuk gejala dan tanda TB
TPT untuk kontak erat (terutama anak <5 tahun dan ODHA) yang terbukti infeksi TB laten tetapi belum sakit TB aktif
Penemuan kasus aktif (Active Case Finding/ACF):
Skrining kelompok risiko tinggi: kontak erat, ODHA, diabetesi, penghuni lapas/rutan, lansia di panti
Teknologi baru: mobile X-ray, computer-aided detection (CAD) untuk rontgen dada
Persiapan adalah perlindungan terbaik.
Wisatawan ke Indonesia:
Risiko TB untuk wisatawan jangka pendek di area turis: rendah
Wisatawan jangka panjang (>3 bulan): Tes IGRA/TST sebelum dan sesudah perjalanan. Serokonversi menunjukkan infeksi TB laten → pertimbangkan TPT.
Tenaga kesehatan/relawan yang bekerja di fasilitas kesehatan Indonesia: risiko lebih tinggi — skrining pra dan pasca keberangkatan
Batuk ≥2 minggu setelah perjalanan ke Indonesia: periksakan untuk TB
Hindari kontak dekat berkepanjangan dengan penderita batuk kronis di ruangan tertutup tanpa ventilasi
Statistik dan data geografis
Indonesia: negara dengan beban TB tertinggi ke-2 di dunia
Data WHO Global TB Report 2023:
Estimasi kasus baru: ~969.000/tahun
Kasus yang dilaporkan dan diobati: ~717.000 (2022) — "missing cases" masih signifikan
Mortalitas TB (tanpa HIV): ~134.000/tahun
MDR/RR-TB: ~24.000 kasus/tahun (estimasi)
Ko-infeksi TB-HIV: ~2,6%
Variasi regional: beban tinggi di Jawa (populasi padat), Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Faktor pendorong: kepadatan penduduk, prevalensi merokok tinggi (65% pria), prevalensi DM tinggi, kemiskinan, akses layanan kesehatan tidak merata.
Target nasional: Indonesia Bebas TB 2030 (Perpres No. 67/2021). Strategi: peningkatan penemuan kasus, pengobatan yang berhasil ≥90%, pengobatan TB laten, dan investasi dalam penelitian.
Siapa yang paling berisiko
Bepergian ke negara dengan beban tinggi (Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, Pasifik Barat), koinfeksi HIV, terapi imunosupresif, kontak erat dengan kasus TB aktif, petugas kesehatan, penghuni tempat tinggal bersama (tempat penampungan, penjara), malnutrisi, diabetes, merokok, silikosis.
Komplikasi yang mungkin terjadi
TB paru:
Kerusakan paru permanen: fibrosis, bronkiektasis, kavitas — menyebabkan gangguan fungsi paru kronis
Hemoptisis masif: perdarahan dari arteri bronkial — mengancam jiwa
Pneumotoraks: ruptur kavitas ke rongga pleura
Aspergiloma: infeksi jamur pada kavitas TB lama ("fungus ball")
TB ekstra paru:
Meningitis TB: mortalitas 15–40%, gejala sisa neurologis pada ~50% penyintas
Spondilitis TB (Pott's disease): deformitas tulang belakang (gibbus), kompresi medula spinalis → paraplegia
Perikarditis TB: efusi perikard → tamponade jantung, perikarditis konstriktif
Sindrom Addison: insufisiensi adrenal akibat destruksi kelenjar adrenal oleh TB
TB resisten obat:
MDR-TB dan XDR-TB: pengobatan lebih lama, efek samping lebih berat, angka kesembuhan lebih rendah
Indonesia: ~24.000 kasus MDR/RR-TB per tahun (estimasi)
Ko-morbiditas di Indonesia:
TB-DM: Indonesia peringkat 5 dunia untuk diabetes — DM meningkatkan risiko TB 3x dan memperburuk outcome pengobatan
TB-HIV: ~2,6% pasien TB di Indonesia positif HIV
TB pada perokok: merokok meningkatkan risiko TB 2–3x — prevalensi merokok pria Indonesia ~65%
Hasil yang diharapkan dan pemulihan
TB laten: Risiko reaktivasi seumur hidup 5–10% pada individu imunokompeten. Pengobatan dengan isoniazid (9 bulan) atau rifampin (4 bulan) mengurangi risiko reaktivasi sebesar 60–90%.
TB paru yang sensitif obat:
Dengan pengobatan standar 6 bulan (2HRZE/4HR): angka kesembuhan >95%.
Tanpa pengobatan: ~50% meninggal dalam 5 tahun, ~25% sembuh spontan, ~25% menjadi sakit kronis.
TB resisten obat:
MDR-TB (resisten terhadap isoniazid + rifampin): durasi pengobatan 9–20 bulan, angka kesembuhan 50–75%.
XDR-TB: angka kesembuhan 30–50% dengan agen yang lebih baru (bedaquiline, pretomanid, linezolid).
TB ekstra paru: Prognosis bergantung pada lokasi. Meningitis TB memiliki mortalitas 20–30% dan morbiditas neurologis signifikan.
Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Perlindungan efektif tersedia.
Bicarakan dengan spesialis kesehatan perjalanan tentang jadwal yang direkomendasikan sebelum perjalanan Anda.
Temukan klinik vaksinasi →Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Medova bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkapDistribusi geografis dan wabah aktif
Recent epidemiological data from the World Health Organization Global Health Observatory.
Source: WHO GHO OData ↗
Source: WHO GHO OData ↗
This data is provided for informational purposes. Please consult official WHO sources for the most current information.
View WHO data source →Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.